(0293) 3148143 [email protected]

Sukses itu tidak mudah, penuh berliku dan peluh begitu juga Muhammad Usman Muqoffa (18) dan Muhammad Farkhan Suha (18). Sebelum memperoleh Golden Ticket pada ajang Hongkong Student Science Project Competition (HKSSPC) sebelumnya mereka mengikuti ajang Ispo (Indonesia Science Project Olimpiade 2018). Ketika itu, Suha mengikuti lomba seorang diri dan mendapatkan medali perak atau juara dua.

“Ketika saya kelas X itu, mengirimkan proposal. Setelah itu, lolos kemudian mengirimkan full paper (makalah lengkap). Lolos masuk semifinal dan maju ke Jakarta, seleksi poster masuk terus masuk final, kemudian presentasi di depan juri. Alhamdulillah mendapatkan medali perak (juara dua) tingkat nasional. Setelah itu, ada surat keputusan bahwa kami menjadi delegasi Indonesia di ajang lomba HKSSPC 2019 di Hongkong,” tuturnya.

Suha mengakui, sebelum mempresentasikan penelitian di hadapan juri di Hongkong, sejak November 2018 telah mengirimkan proposal penelitian. Setelah mengirimkan proposal tersebut tak lama kemudian memperoleh kabar jika harus mempresentasikan hasil penelitian di Hongkong. Untuk lomba yang berlangsung di Hongkong tersebut, kata dia, para peserta datang dari Mexico, Amerika, Chili, Korea, Filipina, Thailand, Singapura dan lainnya. Untuk total peserta ada 30 tim. Sedangkan dari Indonesia dua tim meliputi dari SMAN 1 Grabag dan SMAN 4 Denpasar, Bali.

Adapun yang menjadi latar belakang permasalahan dalam penelitian ini, pertama, problem di Indonesia beton atau isi nangka tersebut dibuang dan tidak dimanfaatkan. Kemudian, kedua masih ada masyarakat di Indonesia yang mengonsumsi nasi aking.

“Bagaimana caranya mengubah beton itu menjadi barang yang berguna. Pertama, beton dikupas terus diblender biar waktu pengeringan cepat. Setelah dikeringkan, dihaluskan pakai mesin tepung, diformulasi dicampur sama tepung kedelai dan tepung tapioka. Ketiganya dengan formulasi sendiri-sendiri, setelah itu dikukus selama 30 menit terus dicetak hingga akhirnya menjadi beras. Setelah menjadi beras cara memasaknya hanya dengan dikukus selama 10 menit sudah masak,” ujar dia.

Kepala SMAN 1 Grabag, Kabupaten Magelang, Ani Ardi Supriyani berharap, keberhasilan mereka ini bisa memotivasi teman-teman lainnya menyusul kesuksesannya. Untuk tingkat internasional bagi sekolah yang pertama kalinya.

“Untuk tingkat internasional baru pertama kali, tapi kalau tingkat nasional sudah sering kali. Harapan ke depan banyak siswa yang menyusul kesuksesan mereka berdua,” katanya.

Sedangkan orangtua Usman, KH Arif Mafatihul Huda (54), menilai anaknya sebagai siswa biasa-biasa saja namun aktif dan tekun.

“Bagi Usman ini kejuaraan yang kedua kali. Dulu pernah mengikuti lomba event nasional di SMA Taruna Nusantara, saat itu belum berhasil. Waktu itu, atas nama MTs Kudus, sedangkan Suha juga atas nama SMPN 2 Kota Magelang, semuanya kurang berhasil tapi tidak menyurutkan semangat mereka,” ujarnya.

Keseharian Usman, katanya, di rumah aktif dan malam hari belajar.

“Dia tidak pernah melihat televisi. Harapan kami nantinya bisa mempertahankan hasil ini karena mempunyai efek yang bagus untuk SMA 1 Grabag dan juga memperkenalkan kepada bangsa Indonesia juga maju. Ternyata dengan sebuah beton bisa menghantarkan ke jenjang internasional,” katanya.

Sementara itu, orangtua Suha, Tachsin Anwar (56), menambahkan, Suha sudah mempunyai kebiasaan melakukan penelitian sejak masih di SMP. Setelah SMA ini, rupanya minat Suha terhadap penelitian semakin berkembang.

“Anak saya itu memang sudah punya kebiasaan atau tradisi meneliti sejak masih SMP, sudah seperti itu. Mungkin di sini, dia lebih berkembang lagi dengan pembimbing-pembimbing dari SMA kan lebih bisa mengembangkan. Kalau juara internasional baru kali ini, tapi kalau nasional sudah 2-3 kali,” ujarnya.

sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4485790/hebat-2-siswa-sman-1-grabag-sabet-emas-di-hongkong-berkat-nasi-beton?_ga=2.163983931.581225602.1553687969-953139593.1553687969